Pasangan Gila Kerja

Hidup dengan pasangan yang menomorsatukan pekerjaan, seringkali membuat pasangan yang lain menahan sakit hati. Tak ada gunanya menggerutu. Cobalah kenali ia lebih dekat.

Pada awalnya, kita mungkin menganggap bahwa seseorang yang selalu bekerja keras adalah calon pasangan ideal.

“Wah, Andra itu lho, bekerjanya rajin bener. Nggak kenal siang malam…”

Seiring berjalannya waktu, bisa jadi Anda baru menyadari bahwa pasangan (suami) ternyata tak cuma seorang pekerja keras, tapi workaholic. Hampir semua waktunya untuk bekerja. Kepentingan Anda sebagai pasangan, bahkan anak-anak pun harus rela terlewatkan. Tapi ini tidak harus membuat Anda menyesal menikah dengannya kan? Yang Anda perlukan adalah bagaimana menyiasati pasangan yang gila kerja ini untuk mengenali kebiasaannya, sehingga secara perlahan dia mampu memanage waktu secara seimbang.

Yang pertama harus Anda lakukan, kenali ia lebih dalam. Perbedaan mendasar antara pekerja keras dengan gila kerja atau workaholic, adalah tujuannya. Pekerja keras ingin berkontribusi secara maksimal dalam pekerjaannya, namun tetap menyisihkan waktu untuk kehidupan sosial. Sementara si workaholic tidak ingin jauh dari pekerjaannya karena merasa tidak berharga dan terasing, pekerjaan adalah satu-satunya hal yang memberi kebanggaan baginya. Seringkali, seorang workaholic tak sadar akan akibat kecanduannya akan pekerjaan ini pada orang-orang lain yang menyayanginya.

Ketahui penyebabnya
Berbagai hal dapat mendasari terbentuknya workaholic. Misalnya faktor finansial keluarga, mengejar karir, rumah kurang nyaman, rumah merangkap kantor atau karena faktor lingkungan, misalnya tuntutan dari atasan. Latar belakang ini yang sebaiknya lebih dahulu Anda pahami sebagai orang terdekat dalam hidup pasangan, untuk membuka jalan komunikasi Anda berdua. Cobalah mencari solusi bersama dari sisi ini. Misalnya, jika penyebabnya adalah finansial keluarga, Anda mungkin dapat membantunya untuk mencari tambahan penghasilan. Atau buat suasana rumah lebih nyaman, jika hal itu yang membuatnya tak betah di rumah.

Utarakan perasaan Anda, tanpa menggerutu
Sebaiknya anggaplah bahwa pasangan tidak menyadari yang Anda rasakan. Komunikasikan dengannya apa yang menjadi ganjalan Anda, namun jangan gunakan kalimat yang menyudutkannya atau menggerutu. Gunakanlah kalimat yang lebih positif, seperti; “Rasanya kangen juga lho.., seandainya papa ada di rumah lebih sering.”

Umumnya seorang penggila kerja menganggap hubungan emosional dengan keluarga dapat melemahkannya, menyerap perhatian dan menyita waktu. Karena itu, cobalah diskusikan dengan pasangan mengenai persepsi pekerjaan dan kegiatan bekerja bagi Anda berdua. Bicarakan pengaruh positif dan negatif aktivitas pekerjaan tersebut bagi hubungan Anda berdua.

Pahami pekerjaannya
Jika Anda ingin pasangan memahami perasaan dan kebutuhan Anda, cobalah untuk memahami juga kebutuhannya dan pekerjaannya. Mulailah dengan mengetahui bidang pekerjaannya, cari informasi mengenai hal itu. Dengarkan keluh kesah maupun keberhasilannya dalam pekerjaan. Hal ini membuatnya merasa dapat berbagi bersama Anda dan menambah kedekatan Anda berdua. Coba bergaul dengan rekan-rekan sekerjanya juga membantu Anda lebih memahami yang dihadapi pasangan dalam pekerjaannya. Berikan dukungan dalam pekerjaannya, turut bantu memperhatikan kesehatan dan sesekali dampingi dirinya ketika perlu kerja lembur. ***

 

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Refresh Image

*

You may use these HTML tags and attributes: