Terkait Tol Semarang – Ungaran Pejabat Mencla-Mencle

Telah berulang kali pejabat mengatakan akan meresmikan tol sejak tahun lalu.
Tapi tak lama kemudian dibantah lagi, mencla-mencle. Seperti bisa dibaca dari
liputan media di bawah ini.

Kamis, 25 Maret 2010

Pembebasan Lahan

Mencapai 65 Persen

Semarang, Kompas

Pembangunan ruas jalan tol Seksi I Semarang-Ungaran sepan­jang 10,9 kilometer dipastikan selesai uji coba pada Juli, disusul Agustus sudah beroperasi. Dengan kepastian tol Semarang-Solo seksi I hampir selesai, proyek tol lanjutan Seksi II ruas Ungaran-Bawen sepanjang 11,3 kilometer kini mulai digarap pembangunannya.

Komisaris Utama PT Trans Marga Jateng, Danang Atmodjo, Rabu (24/3), memastikan bahwa penyelesaian proyek ruas tol Semarang- Ungaran sudah lebih dari 60 persen. Ruas tol itu dipastikan selesai Juli nanti dan siap dipakai uji coba untuk mengurai kemacetan lalu lintas di jalur lama Semarang-Watugong-Ungaran.

“Sejauh ini pembangunan tol ruas Semarang-Ungaran lancar, tidak ada hambatan berarti. Pemanfaatan ruas tol itu pasti banyak di­tunggu masyarakat yang akan menggunakannya,” kata Danang.

Danang menyatakan, pembangunan tol seksi I termasuk cukup berat. Ruas tol dibangun di atas kontur lahan berbukit dan lembah itu perlu enam jembatan penghubung. Ada jembatan yang panjangnya 500 meter serta ada pula tiang jembatan setinggi 54 meter.

Sebanyak enam jembatan yang harus diselesaikan adalah jem­batan Gedawang (22 meter), jembatan Banyumanik I (28 meter), jembatan Tembalang (10,5 meter), jembatan Pengaron (50 meter), jembatan Susukan (34 meter), serta jembatan Banyumanik II setinggi 54 meter.

Proyek tol seksi I Semarang-Ungaran sudah selesai di bagian hulu, yakni Semarang-Pengaron. Tak lama lagi akan tersambung den­gan ruas Pengaron-Ungaran. Jalan Penggaron-Ungaran sudah mema­suki tahap pemantapan lahan yang berlanjut dengan pembangunan badan jalan.

Direktur Utama PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT), Djuwarso, menyampaikan, tidak ada masalah dalam pembiayaan tol Semarang-Bawen. Dana sudah tersedia Rp 2,9 triliun, terdiri atas pin­jaman sindikasi perbankan dan dana PT SPJT yang didukung PT Trans Marga Jateng.

Karena anggaran tersedia, pihaknya sudah menyiapkan pem­bangunan tol Seksi II Ungaran ke Bawen. Pihak pelaksana menye­butkan bahwa pembebasan lahan untuk ruas Ungaran-Bawen sudah mencapai 65 persen. Sisanya dalam proses hingga akhir Agustus.

Ruas tol Ungaran-Bawen akan melintasi Desa Beji, Karangjati, Wringin Putih, Klepu, Ngempon, Derekan, Lemah Ireng, Kandangan, serta berakhir di Desa Bawen.

Wakil Ketua DPRD Jateng, Abdul Fikri Fakih, meminta PT SPJT berkonsentrasi menyelesaikan proyek tol Seksi I dan Seksi II lebih dulu. Pembangunan membutuhkan kesiapan anggaran besar, tentu­nya PT SPJT harus mulai serius dan fokus untuk memanfaatkan dana yang sudah tersedia khusus untuk penyelesaian tol Semarang-Bawen. (WHO)

Kompas Edisi Jawa Tengah | Kamis, 25 Maret 2010 |

Seksi II Dikerjakan Paralel

Tol Semarang-Ungaran Harus Beroperasi Tahun Ini

Semarang, CyberNews.

Pemprov Jateng optimistis jalan tol Seksi I Semarang-Ungaran yang mengalami keterlambatan pembangunan fisik akan siap berop­erasi pada tahun ini. Meski demikian, belum diketahui secara pasti ka­pan jalan tol bagian dari Trans Jawa tersebut akan mulai benar-benar difungsikan.

Kepala Dinas Bina Marga Jateng Danang Atmodjo menyatakan, kepastian beroperasinya jalan tol Seksi I berdasar perkembangan proyek fisik yang saat ini tengah dilakukan.

Dikatakan, pengerjaan fisik saat ini sudah mendekati proses akhir seperti pengerasan jalan di daerah Ungaran. Selain itu, proses pengeprasan Bukit Cemorosewu juga terus dikebut agar cepat ram­pung.

“Jalan tol Semarang-Ungaran harus beroperasi pada tahun ini juga. Kalau sampai molor lagi akan berdampak pada proses penger­jaan di seksi berikutnya,” terang Danang.

Didesak kapan akan mulai dioperasikan, Danang enggan me­nyebutkan target dan menyatakan diusahakan secepatnya pada tahun ini.

Menurutnya, jalan tol tersebut rencananya akan dikelola PT Trans Marga Jateng karena perusahaan konsorsium Pemprov Jateng dengan PT Jasa Marga itu turut mendanai pembangunannya. Diharap­kan pengelolaan jalan tol tersebut menggunakan teknologi modern seperti pemakaian E-Tol yang sudah diterapkan di tol Jakarta karena lebih mudah dan nyaman bagi pengendara.

“Fasilitias pendukung seperti pintu gerbang tol dan perkantoran sudah siap. Konsep pengelolaan saat ini tengah dimatangkan,” jelas­nya.

SEKSI II

Sementara untuk Seksi II Ungaran-Bawen, lanjut Danang, saat ini masih menunggu proses penyelesaian pembebasan lahan agar ter­capai minimal 70%. Bila telah tercapai, maka proses lelang pengerjaan fisik bisa segera dilakukan guna mengejar target penyelesaian. Namun begitu, hingga kini TPT belum juga bisa menyelesaikan syarat minimal pengerjaan fisik tersebut.

Menurut Danang, sambil menunggu proses pembebasan pi­haknya telah menyiapkan dokumen pendukung proses lelang fisik. Pihaknya mengaharapkan lelang sudah bisa dilakukan pada bulan No­vember mendatang. “Kalau bisa dilelang bulan depan, maka proyek dikerjakan dengan sistem paralel tanpa harus menunggu Seksi I ram­pung. Mohon doa restunya agar bisa bisa segera terealisasi,” katanya.

Dikatakan, untuk pembebasan lahan mulai saat ini akan diterap­kan sesuai acuan tim appraisal. Dengan metode tersebut, diharapkan mempercepat proses pembebasan karena tidak perlu dilakukan nego­siasi berulang-ulang. Bila warga tak mau menerima, maka dana akan dititipkan ke pengadilan atau konsinyasi.

( Saptono Joko Sulistyo / CN13 )

Belum lagi jalur yang dipilih kabarnya salah. Karena di jalur yang dipakai saat ini terdapat lahan rawan longsor di sejumlah titik. Pakar Teknik Sipil Undip Dr Robert Kodoatie MEng sebagaimana dikutip CyberNews 09 Maret 2011 mengatakan, satu-satun­ya cara aman yang bisa menjamin ke­selamatan pengguna jalan tol Sema­rang-Ungaran adalah memindahkan rute ruas Gedawang-Penggaron yang tadinya melewati bekas lahan Perhu­tani di stasiun 5,5 dari start Tembal­ang, Kota Semarang.

Menurutnya, jika mengacu peta geologi lokasi tersebut memang su­dah tidak layak untuk dibangun jalan atau permukiman. Tahun 1974 silam seluruh penduduk Kampung Karang­pucung, Kelurahan Pudakpayung, Ke­camatan Banyumanik, Kota Semarang yang tinggal di lokasi tersebut melaku­kan ‘bedhol’ desa ke lokasi di atasnya.

Dia menjelaskan, mengacu peta geologi tahun 1996, di bawah jalan tol stasiun 5,5 yang sekarang ambles dan retak akibat pergerakan tanah di bawahnya, terdapat lapisan formasi kerek atau batu kempung yang kedap air. Di atas formasi kerek, jelasnya, terdapat longsoran tebing yang cukup dalam hingga kedalaman 200 meter.

“Nah, pada lapisan longsoran di atas formasi kerek inilah yang seka­rang terus bergerak. Longsoran terse­but licin seperti sabun, sehingga di atasnya pasti turun,” jelasnya.

Robert mengungkapkan, me-ngapa rute tol Semarang-Ungaran pada penggalan kedua (ruas Geda-wang-Penggaron) sampai melewati kawasan situ, menurutnya itu dise­babkan penggarap tidak melihat peta geologi yang ada. “Jadi sejak awal sudah salah perencanaan. Saya tahun lalu sudah memperingatkan bahwa lahan tersebut tidak layak dilewati tol namun diabaikan,” katanya.

Sekarang di atas lapisan long­soran tersebut diuruk, di-bore pile, dan dibangun jalan. Dia berpendapat, itu merupakan langkah yang muspra sebab kedalaman bore pile hanya sekitar 40 meter, sementara kedala­man longsoran yang bergerak adalah 200 meter di atas formasi kerek.

“Geraknya tanah itu bukan karena salah teknologi bore pile-nya. Namun lantaran bore pile itu meng­gantung di lapisan longsoran. Kalau mau bore pile ya harusnya sampai 200 meter namun kan tidak mung­kin. Baru 30 meter saja sudah berat mengerjakannya. Yang jadi pertan­yaan, kenapa itu dibangun melewati rute itu?,” ucapnya.

KETERLAMBATAN

TANGGUNGJAWAB TMJ

Sementara pertanyaan tertulis yang dilayangkan LIFESTYLE kepa­da Dirjen Bina Marta tentang siapa yang paling bertanggungjawab atas molor-nya pemanfaatan jalan be­bas hambatan ini, “Sesuai dengan perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) bahwa: Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) bertanggungjawab atas pendanaan,perencanaan dan pelak­sanaan konstruksi. Sementara Ke-terlambatan pengope-rasian akibat permasalahan tekhnis menjadi tang­gungjawab BUJT yaitu PT Trans Marga Jateng karena masa konsesi (masa per­encanaan, masa konstruksi dan masa pengope-rasian serta pemeliharaan terhitung sejak penandatanganan PPJT.” Demikian bunyi surat Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum yang ditandatangani Kasubdit Informasi dan Komunikasi, Ir. M. Aji­to, tertanggal 11 November 2011

NYAMUK DAN LALAT

Banyak yang menduga, dibu­kanya setengah pintu tol Semarang- Ungaran juga ada kaitan dengan kondisi badan jalan di STA 5,5 yang tidak aman bagi kendaraan bertonase besar. Cara melindungi adalah mem­biarkan pintu exit di Ungaran kecil. Karena tidak mungkin perencanaan pembangunan jalan tol kesulitan sekedar membuat pintu keluar yang memadai tanpa tidak ada alasan lain yang disembunyikan.

“Memang kondisinya masih crowded,” kata Sabil, dari Divisi Op­erasional Lalu Lintas Trans Marga Jateng (TMJ) Sabtu 12/11 pagi saat LIFESTYLE melihat kondisi tol dari dekat di daerah Ungaran. Tapi dia enggan menjawab lebih jauh, sampai kapan kondisi crowded ini dibiarkan. “Nanti Pak Menteri Pekerjaan Umum dan Dirut TMJ akan meresmikan tol ini di Klepu. Silahkan Anda tanya saja mereka,” kata dia sambil berlalu.

Dirut PT Jasa Marga (Persero) Frans Sunoto yang ditemui LIFESTYLE saat persemian Tol Semarang – Unga-ran membantah anggapan tersebut.

“Ini benar-benar standart jalan tol internasional. Jadi seberat apa­pun kendaraan yang melintas di atas­nya dapat dipastikan aman. Ibarat nyamuk dan lalat di atas meja. Me­mang lalat terlihat lebih besar diband­ing nyamuk. Tapi meja tidak akan terjungkal karena lalat hinggap di atas­nya,” jawabnya diplomatis.

Saat ini tol baru diijinkan di-lint­asi kendaraan golongan 1 murni ala­san pintu keluar belum memadai di Ungaran. Itu sebabnya pembangunan seksi II Ungaran-Bawen akan dikebut sehingga semua golongan kendaraan bisa keluar di Bawen.

Ditanya mengenai kerugian dari PT. Jasa Marga akibat keterlambatan beroperasinya jalan tol Semarang – Ungaran, dia mengatakan meng­hitung untung ruginya tidak seseder­hana itu karena masa konsesi PT. Jasa Marga mengelola tol 45 tahun.

BUKAN SALAH JALUR

Redaksi majalah LIFESTYLE se­benarnya ingin mendapat kejela­san dari orang yang sejak awal terli­bat dalam pembebasan lahan serta penentuan jalur yakni Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Tengah Ir. H. Muhammad Tam­sil, MT. Namun dalam balasan surat permohonan wawancara, mantan pe­saing H. Bibit Waluyo pada Pilgub lalu tersebut hanya mengatakan, “Dalam proses pembangunan jalan tol Sema­rang – Solo, khususnya Seksi I Sema­rang-Ungaran, kami hanya terlibat dalam tahap awal proses percepatan pembebasan lahan. Adapun untuk proses selain dari proses percepatan pengadaan lahan, secara tekhnis di­laksanakan oleh Dinas Teknis sesuai dengan peran dan fungsinya.”

Terkait jalur yang digunakan un­tuk jalan tol saat ini, menurut Direktur Teknik PT Trans Marga Jateng, Ari Nu­groho kepada LIFESTYLE sudah pili­han terbaik. “Sebagaiamana lajimnya membangun sebuah jalan, memang akan ada beberapa jalur pilihan. Tapi kemudian dilihat dari berbagai sisi kelebihan, mana yang lebih aman dan murah. Tentu ini sudah melibatkan para pakar berbagai bidang.” katanya.

“Mengenai kendala teknis di la­pangan, semua sudah bisa diatasi,” imbuhnya.

SEKSI UNGARAN-BAWEN

Bersamaan dengan peresmian tol Semarang-Ungaran, konstruksi seksi II Ungaran-Bawen sepanjang 11,9 km dimulai dengan nilai proyek diperki­rakan mencapai Rp 2,1 triliun

Konstruksi tahap dua ini akan dilaksanakan oleh tiga BUMN Karya, yaitu PT Waskita Karya, PT Pemban­gunan Perumahan Tbk (PP), dan PT Adhi Karya Tbk.

Direktur Teknik dan Operasional Trans Marga Jateng Ari Nugroho men­gatakan, pelaksanaan konstruksi ruas tersebut akan dilaksanakan secara parallel dengan pembebasan lahan, guna mempercepat pembangunan­nya. Hingga saat ini, lahan yang sudah dibebaskan mencapai 97%.

“Sesuai jadwal, pelaksanaan kon­struksi membutuhkan waktu 23 bulan. Tapi, kami akan mengupayakan agar kurang dari 23 bulan konstruksinya, mungkin sekitar 18 bulan. Dengan demikian, tol sudah bisa beroperasi pertengahan 2013,” katanya.

Semoga apa yang dijanjikan pejabat hari ini menjadi kenyataan. Rakyat Jawa Tengah telah menunggu. tim

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>