PDAM Purbalingga Sukses dengan Manajemen Kalbu

Kalem dan bersahaja. Itulah kesan pertama yang ditangkap  LEFESTYLE saat berjumpa dengan Drs. H. Hardi Wibowo, M.Si di kantornya belum lama ini. Uniknya, yang pertama dijelaskan Pak Hardi –demikian Drs. H. Hardi Wibowo, M.Si biasa disapa– dalam perbincangan tersebut justru kuasa doa bagi insan manusia.
“Doa adalah sebuah pernyataan bahwa kita selalu ingat Allah, sang Khalik. Mengapa manusia perlu mengingat Allah? Karena Dia-lah yang empunya langit, bumi dan segala isinya. Kalau kita sadar bahwa seluruh alam semesta beserta isinya ada dalam kendali Allah, maka kita akan menjadi orang yang rendah hati, bekerja dengan niatan tulus dan iklas. Jika kita bekerja dengan tulus ikhlas, insyaallah, Allah-pun akan mengasihi, melindungi dan memberkahi kita,” kata Drs. H. Hardi Wibowo, M.Si.
Itukah kata kunci keberhasilannya mendandani PDAM Purbalingga? “Iya. Saya sangat yakin, PDAM Purbalingga bisa bangkit, tak lepas dari pertolongan Tuhan. Karena kami mempimpin dengan managemen kalbu. Kami menyadari, bekerja adalah bagian dari ibadah. Itu sebabnya segala sesuatu harus diawali dengan do’a. Setiap apel pagi, karyawan wajib membaca do’a dan surat Al Fatihah. Karena menurut saya, kerja keras saja tidak cukup. Kita harus memohon kekuatan dan hikmat dari Allah. Sebaliknya, berdoa saja tidak cukup. Harus kerja keras. Ora et labora,” kata suami dari Ny. Hj Endang Suwesti.
Bahkan PDAM Purbalingga telah melakukan pengajian Iqro’ dan sudah khatam 2 kali. Masih menurut Pak Hardi, selain mendekatkan diri kepada Tuhan, kebiasaan ini bisa mempererat tali persaudaraan. Apalagi usai pengajian, selalu diadakan makan bersama tanpa piring. Hasilnya sangat luar biasa. Diantara karyawan yang berjumlah 125 orang terjalin keakraban satu dengan yang lain, termasuk dengan managemen.

KISAH 10 TAHUN LALU
Tahun 2002 lalu, Drs. H. Hardi Wibowo, M.Si ditugaskan Bupati Purbalingga (saat itu masih dijabat Drs. Triyono) menjadi Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (Dirut PDAM). Dia mengaku sempat kaget bercampur bangga atas kepercayaan tersebut. Tapi lebih kaget lagi setelah mulai melaksanakan tugas dan mengetahui carut marutnya manajemen perusahaan, termasuk hutang yang mencapai Rp 13 milyar.
Pembenahan pun dilakukan secara berlahan. “Kunci utamanya, ya management kalbu tadi. Sebelum melakukan kerja keras, kita harus terlebih dahulu meminta bimbingan Allah dengan cara doa bersama,” terangnya.
Lambat laun, Perusda ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, utamanya dari pimpinan daerah dan juga masyarakat sebagai pelanggan.
Sekarang, walaupun masih terus berbenah, tapi kini kondisinya sudah jauh lebih baik. Buktinya, sejak Januari lalu keuangan PDAM Purbalingga sudah betul-betul terbebas dari belitan hutang. Sehingga tahun ini diharapkan sudah menjadi perusahaan yang berdaya saing dan bisa berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Jumlah pelanggan juga mengalami peningkatan. Dari 16.000 pelanggan tahun 2002 menjadi 28.124 pelanggan akhir 2011 lalu. Nilai investasi dulunya Rp 16 milyar, sekarang telah mencapai Rp 27 milyar.

SUMBER AIR DARI GUNUNG
Ditanya kelebihan PADM Purbalingga, dia mengaku, bahan bakunya air grafitasi, sehingga biaya operasional tidak terlalu mahal. Sumber mata air dari Gunung Slamet ada 15 titik mata air yang telah digunakan. Kemudian di Tanah Lum ada 1.200 liter/detik dan yang terpakai baru 300 liter/detik untuk mengairi 7 kecamatan wilayah Selatan, seperti kecamatan Rembang, Pengadekan dan Kaligondang.
Ke Utara adalah Karangkoncol, Karanganyar dan Kertanegara. Total keseluruhan mata air yang beroperasi kisaran 400 liter/detik. Jumlah ini baru sebagian kecil dari mata yang ada lebih dari 10.000/detik.
“Kita juga telah mengadakan hubungan dengan kabupaten lain seperti Banjarnegara dan Banyumas. Kemudian untuk kedepan kita juga masih terus melakukan sosialisasi akan pentingnya air bersih,” kata pemilik motto; Hidup adalah pengabdian.
Karyawan 125 orang didukung 10 kantor pelayanan yang tersebar di Kecamatan Kota (Purbalingga), Bobocari, Mrebet, Bojongsari, Kutasari, Kalimanah, Kemangkon, Bukateja dan Kaligondang. Masing-masing dipimpin oleh Koordinator Kecamatan. “Harapan saya ke depan, temen-temen di jajaran PDAM Purbalingga, hendaknya jangan hanya mengejar duniawi saja, tapi akherat juga,” kata PNS yang masuk masa pensiun per April 2012 dan masih dikaryakan hingga 6 bulan ke depan, mengakhiri perbincangan.  Muchlas Hamidi

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>