Melatih Sikap Positif

Suatu organisasi alam liar menawarkan imbalan sebesar lima ribu dollar untuk setiap serigala yang tertangkap hidup-hidup. Tujuannya, relokasi. Sepasang sahabat, Sam dan Jed menerima tantangan itu. Mereka menjadi pemburu hadiah. Sam yakin; ia dengan pengetahuannya dan Jed tentang habitat serigala, mereka bisa meraih keberuntungan.

Siang-malam mereka menjelajah, mencari-cari gerombolan serigala untuk dijadikan sasaran, tetapi tidak sedikit pun melihat sesuatu. Setelah lelah berhari-hari melakukan pencarian, mereka akhirnya tertidur jauh di tengah malam, di sekitar api unggun mereka.

Tiba-tiba, sesuatu menyebabkan Sam terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Sambil bersandar pada satu siku, ia mendapati dirinya dan Jed dikelilingi oleh kira-kira lima puluh serigala yang menggeram-geram dengan mata yang berkilat-kilat dan taring yang diperlihatkan. Ia menyodok Jed dengan tongkat dan berbisik, “Jed! Bangun! Kita kaya!”

Nah, bayangkan, kita yang berada di tengah2 serigala itu. Apa yang spontan kita pikirkan?
”Waduuuh, matilah aku!”  Mungkin saja kan?
Pembaca, kisah di atas adalah contoh tentang sikap positif. Sam adalah orang yang melihat gelas setengah penuh, BUKAN setengah kosong. Ia tipe orang yang optimis!
Kisah itu diceritakan ulang oleh Zig Ziglar dalam bukunya berjudul ”Better than Good”.

Sikap kita hari ini akan menentukan bagaimana kita nanti. Artinya, aset berharga yang dapat kita miliki adalah sikap positif. Faktor lain seperti perencanaan yang baik, kerja keras bahkan keterampilan memimpin, semua dibangun di atas dasar sikap positif. Tanpa sikap yang baik tidak akan mungkin ada hasil yang baik. Maka tidak jadi soal berapa umur kita, posisi atau lingkungan kita sekarang, gender, atau status perkawinan, yakinlah bahwa sikap positif dapat memberikan sesuatu yang sangat berarti dalam hidup kita.

Pikiran dan perasaan positif itu biasanya bermanifestasi dalam bentuk optimisme yang tinggi, pantang menyerah, percaya diri, mudah bersyukur, sabar, menghargai orang lain, menghargai perbedaan, mudah berteman, mengambil tanggung jawab atas diri sendiri atau pantang menyalahkan orang lain dan keadaan.

Thomas Alfa Edison, sang penemu lampu, sangat terkenal dengan sikapnya yang positif. Alkisah, pada bulan Desember 1914, laboratorium Edison habis terbakar api. Ia kehilangan perlengkapan senilai hingga 2 juta dollar serta hasil kerjanya semasa hidup. Keesokan harinya, Edison sama sekali tidak terlihat kecewa, ia justru berujar: ”Terdapat manfaat besar dalam suatu bencana. Seluruh kesalahan kita telah terbakar. Berterimakasihlah kepada Tuhan karena kita dapat memulai dari awal.”

Padahal, untuk menemukan lampu pijar, Edison harus melakukan percobaan sebanyak 2.000 kali! Ini adalah contoh betapa sikap positif yang luar biasa pada akhirnya memberikan pay off yang memuaskan.

Sarapan para juara
Pada dasarnya setiap orang pasti memiliki pengalaman seperti Sam, Jed atau Edison. “Duuh.., ternyata meraih sukses itu susah ya? Kerja mati-matian, hasilnya gitu-gitu aja! Belum lagi rintangannya banyak banget…” keluh Edwin, seorang sales marketing, suatu ketika.

Ya, rintangan itu bisa datang dalam wujud apa saja. Tuntutan kerja yang semakin meningkat, atasan yang susah dipuaskan, rekan kerja yang menyebalkan, atau kompetisi yang makin ketat. Kita kadang juga merasa ‘teraniaya’ ketika kesehatan tak kunjung membaik, pendidikan dan pengalaman yang terbatas, atau kejadian di masa lalu yang masih membawa luka hati hingga hari ini. Bahkan bisa juga menjelma menjadi pasangan yang egois, atau mungkin putra-putri yang semakin susah diarahkan.

Pembaca, andai saja pikiran kita lebih terbuka, rintangan itu merupakan sarapan para juara. Tidak ada kesuksesan sejati tanpa perjuangan dan tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Setiap orang memiliki rintangannya sendiri. Semua kembali kepada kita. Memilih menyerah atau tetap berjuang hingga titik darah terakhir. Itu adalah sikap, dan sikap adalah sebuah pilihan.

Mulai saat ini, kita harus berlatih untuk memiliki pikiran yang terbuka. Sebagai misal, saat 2 bulan terakhir samasekali tak dapat komisi karena penjualan tak mencapai target, seseorang berdoa: “Ya Tuhan, kalau Engkau mengasihiku, limpahilah aku rejeki yang berlipat.”

Ia hanya melihat bahwa satu-satunya cara Tuhan menunjukkan kasihsayang-Nya adalah dengan melimpahinya gaji dan komisi yang besar. Padahal, Tuhan bisa saja berkata: “Jangankan memberimu gaji yang berlipat. Memberimu harta yang datang bertubi-tubi pun, Aku mampu. Tetapi kali ini, Aku ingin menunjukkan kasih-Ku kepadamu dengan cara yang berbeda. Aku ingin kamu belajar bersabar, karena Aku sudah mempersiapkan rejeki lain yang lebih besar. Maka inilah cara-Ku untuk melatihmu bersabar agar kamu tak terkejut dengan keberhasilanmu esok hari.”

Buka pikiran dan Anda akan melihat begitu banyak kesempatan. Jangan pula tergoda untuk terburu-buru menilai ucapan atau tindakan seseorang berdasarkan asumsi, prasangka ataupun kejadian masa lalu. Lebih-lebih bila Anda sedang dalam keadaan emosi negatif. Percayalah apapun yang Anda katakan atau lakukan dalam keadaan emosi negatif, pasti salah. Karena itu latih diri Anda untuk menjadi lebih tenang ketika menghadapi situasi apapun. Dan langkah awal paling tepat untuk memiliki ketenangan adalah membangun hubungan yang baik dengan Tuhan melalui doa, karena dasar dari sikap positif adalah hati. ***

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>