Peluang Kerja Sebagai Pelaut Sangat Besar

Kita patut bangga bila dikenal sebagai  pelaut. Dalam syair lagu yang dulu sering dilantunkan penuh kebanggaan,    “Nenek moyangku orang pelaut…………dst……”. Nyanyian Ini bukan sekadar nyanyian, tetapi didasari fakta geografis negara kita yang wilayah lautannya lebih luas ketimbang wilayah daratan. Kerajaan besar yang menjadi cikal bakal Negara Kesatuan RI, yaitu Sriwijaya dan Majapahit telah menunjukkan kebesaran dan kejayaannya di laut. Karena luasnya lautan dan banyaknya pulau, negara kita  juga dikenal sebagai negara maritim, bahkan juga dikenal sebagai negara yang paling panjang garis pantainya di dunia.
Sayang potensi  kekayaan sumber daya alam yang begitu besar itu belum  dieksplor secara optimal. Demikian juga soal kapal-kapal pelayaran  sebagai penghubung/jembatan perdagangan dan transportasi antar pulau (antara negara) juga terasa masih sangat kurang, bila menengok negeri kita sebagai negara maritim.
Karena itu, di era  kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat, seharusnya peluang dan kesempatan itu  dimanfaatkan maksimal. Ini untuk antisipasi jangan tenaga pelaut asing mendominasi peluang kerja di wilayah laut kita.
Berangkat dari  peluang kerja yang sangat besar itu, wartawan Lifestyle,  Sutono berkesempatan berbincang-bincang  dengan Direktur Akpelni Drs. Djajari, MSi seusai melakukan Wisuda  Diploma III & Profesi ke -35 di Kampus Semarang.

Prospek dan peluang lulusan Akpelni seperti apa? Bagaimana dengan tenaga kerja asing?
Peluang dan prospek lulusan Akpelni cukup besar, tetapi kita juga menghadapi pesaing, yaitu tenaga   asing. Maka yang perlu kita lakukan adalah pertama; mendidik, kedua; kepedulian dan ketiga; skill akademika. Ketiganya itu harus ditingkatkan kompetensinya.
Karena  peluangnya sangat besar, baik  di dalam negeri, maupun  di luar negeri, maka AKPELNI memang terus membangun dan melaksanakan link and match.
Hanya saja yang menjadi persoalan, umumnya masyarakat yang ingin menjadi pelaut berasal dari daerah, yang nota bene pendukung ekonominya  tidak begitu kuat. Padahal banyak sertifikasi persyaratan dari IMO (International Maritim Organization). Maka Akpelni bekerjasama dengan Yayasan menyelenggarakan   beasiswa. Misalnya dengan Perusahaan Pelayaran Lintas Samudra, Pertamina, Pelni, Meratus,  Kayu Lapis, Darma Lautan  dan masih banyak yang lainnya.
Kerjasama itu terus digalakkan, karena sekarang ini mencari pelaut susah, maka perusahaan-perusahaan pelayaran itu mengambil lulusan STM atau SMA untuk dididik di Akpelni dan dibeayai oleh perusahaan tersebut. Sedangkan praktiknya di perusahaannya sendiri.
Dengan sistem  tersebut, kami pun lebih enak, karena tidak lagi memungut beaya pendidikan dari orang tua.
Syarat IMO itu penting bagi perusahaan pelayaran, karena berkaitan dengan penggunaan kapal. Sebagai contoh di darat. Bila sebuah perusahaan mempunyai bis besar dan banyak, tentunya akan mencari sopir yang memenuhi syarat dan berkualitas. Kalau tidak berkualitas ya repot.
Hal itu  juga sama dengan perusahaan-perusahaan pelayaran, Inginnya pasti mencari pelaut yang handal/berkualitas dan  itu merupakan patokan   persyaratan yang dimiliki IMO.
Maka dalam rangka meningkatkan skill itu, Akpelni terus berbenah mulai dari peralatan, tenaga dosennya sampai lingkup untuk perkuliahannya.

Apakah  keunggulan yang dimiliki Akpelni dibandingkan dengan yang lain sehingga menarik animo masyarakat?
Keunggulannya adalah AKPELNI dikelola  dengan manajemen pendidikan  secara profesional. AKPELNI diandalkan melalui Ikatan Alumninya. Karena alumninya sudah  berhasil dimana-dimana, sehingga bisa membawa adik-adiknya kesana.Salah satu pembina yayasannya kini memiliki kira-kira 23 kapal.  Animo masyarakat juga sangat besar, terbukti dalam Penerimaan Mahasiswa Baru tahun kemarin kami tetap menolak sampai 60 persen pendaftar dan hanya menerima 40 persennya.

Menurut Dirjen Perla, kebutuhan tenaga pelaut  masih sangat kurang. Bagaimana menangkap peluang ini?

Memang beberapa waktu lalu Dirjen Perla melalui Kepala Badan Diklat datang ke sini mengatakan kalau tahun 2015 Indonesia harus bisa meluluskan perwira-perwira kapal minimal 1500.
Namun meskipun itu peluang, kita tidak lantas memanfaatkan kesempatan itu dengan   menjaring siswa sebanyak-banyaknya. Kami tetap menjaga kualitas,  menyesuaikan dengan kemampuan kita. Karena itu kualitas lulusan harus bisa dipertahankan, baik kualitas pribadi  maupun skillnya.
Dalam rangka menjaga kualitas itu, kita juga meningkatkan SDM para dosen,  dengan memberikan peningkatan pendidikan dosen senior ditambahi bekal IT dan yang baru kita tingkatkan IT-nya, sehingga yang senior bisa mengikuti pembelajaran IT, demikian juga dengan yang baru. Fasilitas  belajarnya juga ditingkatkan, seperti ruangan ber- AC dan proses belajarnya sudah pakai LCD. Rencana ke depan kita juga akan memakai CCTV. Jadi kalau ada kenakalan anak bisa terpantau atau kalau ada dosen yang mengajar ngantuk/tiduran  kita bisa ngontrol. Peluang yang sangat bagus ini  jangan sampai terabaikan. Karena itu kami juga tak segan-segan  mengadakan sosialisasi  ke sekolah-sekolah STM/SMA.
Hanya saja persoalannya kita kekurangan dosen karena penghasilan di laut itu besar dan di darat berbeda. Di laut itu gajinya tinggi sedangkan di darat masyarakat belum  berani membayar mahal. Maka kiat kami adalah  anak-anak muda yang layarnya cuma dekat-dekat sini kita rekrut. Jadi sekitar 8 sampai 10 anak  yang berlayarnya setahun, dua diantaranya diambil sebagai tenaga pengajar, terus bergantian.
Lulusan Akpelni sudah tersebar kemana saja ?
Lulusan AKPELNI sudah tersebar di seluruh perusahaan kapal di Indonesia bahkan sampai dunia, baik itu perusahaan swasta maupun negeri. Di militer juga banyak.
Berkaitan dengan Penerimaan Mahasiswa Baru tahun akademik 2013/2014, persiapan apa yang sudah dilakukan Akpelni ?

Kini AKPELNI sedang mempersiapkan pembentukan panitia dalam rangka menyambut dan menerima  calon mahasiswa baru  menjadi mahasiswa Akpelni.
Dalam rekrutmennya kita harus betul-betul memenuhi syarat. Kapasitas kami adalah 500 terbagi dalam 3 jurusan.  Rencananya 6 kelas untuk Nautika, 6 untuk Tehnik dan 3 kelas untuk Tata Laksana.
Kami tetap optimis dan tidak kuatir dengan persaingan, karena animo masyarakat masih sangat besar untuk masuk Akpelni. Pendaftaran tahun ini kami tetap akan menerima  500.  Untuk seleksinya juga sangat ketat, karena di laut itu  memang tidak sembarangan, maka sikap mentalnya juga harus tinggi.

Menanggapi tentang pendidikan di Akpelni yang berbau militer ?

Sebetulnya tidak semi militer. Tetapi siapapun yang bisa mendidik dalam disiplin tinggi, ketertiban tinggi, akan saya adopsi, karena pesaing kita adalah negara asing. Kalau tidak memiliki disiplin tinggi kita kalah bersaing. Untuk bahasa, kita tetap menggunakan dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris. Karena itu kita juga memperbanyak area dengan tulisan berbahasa Inggris di kampus.                                        Ton

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>