Motivasi Mbah Danan Untuk Gus Dur dan NU, Jago Apa Babon ?

SosoFotoknya yang unik mudah mencuri perhatian dan melahirkan rasa penasaran. Tak terkecuali bagi seorang tokoh sebesar almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di daerah pesisir selatan Jawa Timur tepatnya di Trenggalek, keunikan sosok KH. Abdul Hannan  (Mbah Dahnan/Mbah Dannan) dikenal luas sebagai sosok kyai dengan gaya hi-dup yang nyleneh (aneh). Mendirikan sebuah pondok pesantren di daerah Trenggalek yang tidak diberi nama apapun. Santrinya pun tidak banyak, karena Mbah Dannan sangat mementingkan kualitas santrinya dibanding kuantitas. Pondok pesantren ini kemudian dikenal dengan Pondok Kidul Kali (PKK). Setelah wafat, Mbah Dannan (almarhum), dimakamkan di  daerah Tambak Ngadi, Kediri, Jawa-Timur, di salah satu bagian dari kompleks kompleks makam auliya’. Kata auliya’ adalah bentuk jamak dari wali, waliyun atau wakil Allah SWT dalam melanjutkan perjuangan Rasulullah SAW. Mereka yang dimakamkan di kompleks ini adalah orang-orang yang berjuang seluruh hidup mereka di jalan Allah untuk mengibarkan syi’ar Islam. Keunikan sosok KH. Abdul Hannan  (Mbah Dahnan/Mbah Dannan) semasa hidupnya itu menggelitik rasa penasaran Gus Dur yang juga dikenal unik. Untuk memuaskan rasa penasarannya, suatu ketika Gus Dur mendadak berkunjung ke pondok pesantren asuhan Mbah Dannan. Menurut putra Mbah Dannan, Gus Bahaul Mun’im (Gus Bahak), kunjungan Presiden RI ke-4 ini selalu tanpa schedule yang jelas, mendadak dan tanpa protokoler. Tak jarang pukul 02.00 dini hari tokoh yang terkenal dengan jargon “gitu aja kok repot” ini berkunjung hanya sekedar untuk ngobrol. Perbincangan kedua tokoh Nahdlatul Ulama ini pun beragam, mulai dari kondisi bangsa, NU, sampai gurauan yang mengundang gelak. Silaturrahim indah dari dua tokoh unik nan karismatik ini pun terus berlanjut. Suatu ketika Mbah Dannan melontarkan pertanyaan kepada Gus Dur yang kala itu masih menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah NU, “Jan-jane NU niku jago nopo babon ?“ (Sebenarnya NU itu jantan atau betina? – red). Gus Dur yang tidak menyangka mendapatkan pertanyaan nyeleneh itu pun balik bertanya, “Maksude pripun Kyai?” (maksudnya bagaimana Kyai?). Dengan gaya khasnya, Mbah Dannan memperjelas pertanyaan yang mungkin tidak perlu  jawaban itu, ”Lha nggih, nek jago niku pundi gapyuk-e, nek babon pundi endhog-e ?” (Lha iya, kalau pejantan mana gebrakan/ kiprahnya, kalau betina mana telor/peninggalannya?). Pertanyaan tentang ‘kelamin’ NU sekaligus ‘sentilan’ itu rupanya menggugah motifasi Gus Dur untuk berjuang memajukan bangsa dengan melakukan gebrakan melawan kelaliman penguasa dan memberikan peninggalan yang maslahat. Jalur politik lah yang akhirnya dipilih oleh Abdurrahman Addakhil (nama lahir Gus Dur) untuk unjuk ‘taji’. Seperti halnya sang kakek, KH. Hasyim Asyari, yang mampu menyatukan bangsa dan kaum nahdiyin dengan mendirikan organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU). Tahun 1998, wadah perjuangan politik kaum nahdliyin (Partai Kebangkitan Bangsa, PKB) lahir. Meskipun didominasi oleh kaum nahdliyin, namun Gus Dur menyatakan bahwa PKB adalah partai terbuka untuk semua orang. Karena  tole-ransinya yang tinggi dan kecintaan terhadap kebhinekaan, Gus Dur dikenal sebagai tokoh pluralis. Tanggal 20 Oktober 1999 melalui Sidang Umum MPR, Gus Dur terpilih menjadi presiden RI ke-4. Sementara Mbah Dannan hingga akhir hayatnya tetap konsisten berjuang di jalur kultural Nahdlatul Ulama. Jadi, soal jago atau babon memang bukan hanya soal kelamin semata, namun juga pandangan politik dan pilihan hidup. Tyo

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>